BoksHaul, penyedia jasa logistik berbasis teknologi berpendapat, “Semua pemangku kepentingan logistik perlu melakukan proses digitalisasi.” Terutama meninggalkan bisnis model konvensional, agar permasalahan inefisiensi kegiatan logistik di pelabuhan bisa segera teratasi. Adapun permasalahan lainnya ialah kepadatan di area pelabuhan akibat kemacetan truk dan penumpukan peti kemas di kawasan depot container Cakung, Cilincing, Marunda, dan sekitarnya.

BoksHaul mengintegrasikan proses logistik melalui kolaborasi crowdsourcing dengan mempromosikan transparansi supply demand di antara semua pihak. Mulai dari shipper, shipping lines, perusahaan truk, hingga depot kontainer. Terutama bagi shipping lines, BoksHaul memaksimalkan utilisasi kontainernya dengan menekan waktu penumpukan kontainer kosong di depot. Jadi, dengan adanya perubahan model bisnis yang ada, shipper pun diharapkan akan untung karena mendapatkan armada truk lebih cepat, dan dipastikan dengan biaya yang lebih murah. Sementara bagi pemilik truk, utilisasi armadanya juga tentu akan meningkat hingga dua kali lipat. Di sini, BoksHaul pun menegaskan apabila platform-nya telah banyak digunakan, dalam jangka waktu yang cepat, akan ada peningkatan efisiensi biaya logistik yang sangat signifikan. Terlebih perihal biaya pengangkutan kontainer ekspor dan impor pun tercatat selalu meningkat dari tahun ke tahun. Mengenai jumlahnya, diketahui ada 24 ribu armada truk trailer yang berlalu lalang setiap harinya di sepanjang kawasan industri. Ironinya, setengah, atau sejumlah 12 ribu dari armada itu mengangkut kontainer kosong. Perubahan model bisnis yang ada dipastikan berdampak positif terhadap pengurangan kemacetan di sekitar pelabuhan. Pengurangan jumlah trailer yang berlalu lalang, baik yang beroperasi dari kawasan industri, maupun sebaliknya. Penggunaan bahan bakar, yang berdampak pada jumlah emisi karbon pun otomatis dipastikan menurun. Niscaya akan banyak keuntungan lainnya dengan perubahan model bisnis yang disediakan oleh BoksHaul.